Perjalanan Empat Dekade Dwiki Dharmawan
Walau tinggal satu jam lagi menjelang pergantian hari, energi serta antusiasme Dwiki Dharmawan di atas panggung, Sabtu (23/8/2025) malam, masih menyala terang. Semangat komposer sekaligus maestro musik Tanah Air satu ini bak tak ada habisnya. Padahal, sudah sejak tiga jam terakhir Dwiki secara nonstop mengiringi belasan penyanyi top papan atas Tanah Air dalam konser spesial The Musical Journey of di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan.
Konser The Musical Journey of merupakan momentum penanda sekaligus syukuran empat dekade perjalanan karier bermusik, emosional, dan spiritual Dwiki Dharmawan. Dalam kurun waktu tersebut, Dwiki mencatat dirinya telah menghasilkan 24 album, dengan lebih dari 100 lagu. Bersama kelompok orkestra yang didirikannya, dia juga telah melanglang buana ke lebih dari 80 negara di dunia.
Secara bergiliran, para penyanyi membawakan total puluhan lagu yang rata-rata merupakan karya-karya Dwiki di sepanjang karier bermusiknya. Beberapa nama besar, seperti Kris Dayanti, Ruth Sahanaya, Once Mekel, Andien, Sandy Sandoro, Dira Sugandi, dan sang istri, Ita Purnamasari, turut hadir. Selain itu, tampil juga penyanyi-penyanyi yunior berbakat, seperti Putri Ariani, Dirly, Ivan Paulus, Jinan Laetitia, Shanna Shannon, dan Awdella.
Dwiki juga melibatkan dua musisi kaliber dunia, violinis Iskandar Widjaja dan saksofonis Ivan Paulus. Penampilan Dwiki bersama para musisi dan penyanyi papan atas Tanah Air tersebut juga didukung World Peace Orchestra.
Penampilan prima Dwiki di atas panggung Ciputra Artpreuneur Theatre semakin menggelora dengan hadirnya tiga sahabat lama Dwiki. Ketiganya adalah rekan bermusik yang sudah dikenal sejak awal Dwiki merintis karier, terutama di Band Krakatau.
Mereka adalah Indra Lesmana, Trie Utami, dan Gilang Ramadhan. Ketiganya merupakan sesama nama besar di dunia musik Indonesia, yang tak kalah produktif dan menghasilkan banyak karya.
Selain mereka berempat, dalam konser kali ini, Band Krakatau juga mengikutsertakan tambahan iringan dua musisi muda, yaitu basis Barry Likumahuwa dan gitaris Andre Dinuth. Barry dan Andre hadir untuk mengisi kekosongan personel Band Krakatau lainnya, yaitu Pra Budi Dharma dan mendiang Donny Suhendra.
Mereka tampil bersama sekaligus bernostalgia. Sebagai band beraliran jazz yang terbentuk pertengahan 1980-an di Kota Bandung, Jawa Barat, Band Krakatau cukup disegani.
Tak hanya di dalam negeri, Band Krakatau juga dikenal dan punya nama di level internasional. Sejumlah hits telah mereka hasilkan, beberapa di antaranya dibawakan di konser Dwiki.
Di panggung, layaknya kawan lama, baik Dwiki, Indra, Trie, maupun Gilang, keempatnya sama-sama tampil santai, tak lupa saling melemparkan canda dan senda gurau. Kelucuan salah satunya terjadi saat Dwiki salah melihat jam.
Saat di panggung dan giliran Band Krakatau tampil, Dwiki mengira waktu masih menunjukkan pukul 22.00 WIB. Baginya, pukul 22.00 WIB belum terlalu larut untuk memulai sebuah penampilan. Dia heran mengapa teman-temannya merasa saat itu sudah terlalu larut.
Kesalahpahaman jenaka tersebut tampak dalam percakapan kecil antara Dwiki dan Indra di atas panggung. ”Jam 10 (malam) apaan? Lihat dong, sudah jam 11 (malam) nih,” sambar Indra lewat celetukannya sambil tertawa.
Buat seumuran kita, ini sudah waktunya bobo’ (tidur), ya. Tapi Pak Ici masih terlihat hebat nih, jam segini masih terang. Ha-ha-ha.
Para penonton pun tersenyum semakin lebar saat melihat Dwiki sedikit kaget dan menyadari dirinya silap membaca waktu. I’ie, sapaan akrab Trie Utami, juga ikut menggoda dan mencandai Dwiki.
Menurut I’ie kepada Ici (sapaan Trie Utami ke Dwiki), mereka mendapat giliran tampil di jam yang sudah terbilang larut malam. I’ie menambahkan, bagi orang-orang seumuran mereka, pukul 23.00 sudah masuk waktunya tidur.
”Buat seumuran kita, ini sudah waktunya bobo’ (tidur), ya. Tapi Pak Ici masih terlihat hebat nih, jam segini masih terang. Ha-ha-ha,” canda Trie disambut gelak penonton.
Suasana teater pertunjukan berkapasitas lebih dari 1.000 tempat duduk itu mendadak riuh dengan tawa. Namun, tak sampai menunggu lama, empat lagu hits lawas Band Krakatau pun segera mereka mainkan.
Keempat lagu itu, antara lain, ”Haiti”, ”Terumbu Menangis”, ”Cerita Persahabatan”, serta salah satu hits yang paling ditunggu-tunggu, ”Kau Datang”. Semua lagu dibawakan dengan bertenaga disertai sejumlah improvisasi yang mengagumkan, nyaris tanpa cela.
Sesaat menjelang tampil bersama Band Krakatau, Dwiki menyempatkan diri berganti kostum di atas panggung. Dia mengenakan jaket putih bertampilan vintage, yang dandy ala fashion 1980-an. Setelan jas semacam itu dulu familiar dikenakan para musisi asing, seperti personel band New Wave asal Inggris Raya, Duran Duran.
Nuansa ”jadul” era 1980-1990-an juga terasa semakin kental saat Dwiki memainkan instrumen keytar synthesizernya. Bahkan sambil mencekal keyboard bersetang ala gitar listrik itu Dwiki turun panggung berkeliling menghampiri para penonton di kursi mereka.
Para personel Band Krakatau memang tampak masih digdaya dan tampil dengan kualitas prima. Walau bukan penampilan puncak, kehadiran Dwiki dan ketiga rekan lawasnya itu mampu menghadirkan klimaks tersendiri.
Bersahaja dan sayang keluarga
Di dunia musik, nama Dwiki sudah tak asing. Walau berstatus musisi senior kaliber dunia, sejumlah kalangan menilai sosok Dwiki memiliki karakter bersahaja dan rendah hati. Ini tampak pula dari jumlah penyanyi yang kali ini diajak tampil.
Dari daftar artis yang tampil, terlihat nama-nama penyanyi yunior yang jumlahnya cukup mendominasi line up penampil. Saat ditemui di beberapa kesempatan, sejumlah musisi yunior melontarkan pujiannya terhadap Dwiki.
Di mata mereka, sosok Dwiki teramat rendah hati dan tak ragu untuk memberi kesempatan kepada mereka yang masih muda. Jinan Laetitia adalah salah satunya. Beberapa waktu lalu dia berkolaborasi membawakan kembali lagu religi ciptaan Dwiki, ”Dengan Menyebut Nama Allah”.
”Om Dwiki saat itu membebaskan aku membawakan lagunya sesuai warna vokal dan gaya bernyanyiku sendiri,” ujar Jinan.
Kebebasan yang didapat saat berkolaborasi dengan Dwiki juga dirasakan penyanyi yunior Putri Ariani. Dalam konser Dwiki kali ini, Putri bahkan sampai diberi kesempatan membawakan lagu ciptaannya sendiri, ”Imperfect Liar”.
Tak hanya itu, Dwiki juga meminta orkestra pengiring justru yang mengikuti vokal Putri. Langkah seperti itu, menurut Putri, adalah improvisasi yang tak biasa dan mau ditempuh Dwiki demi memudahkan dirinya tampil.
Beliau mengajak musisi muda, yang bahkan belum memutuskan untuk terjun ke dunia rekaman. Dengan (statusnya) yang se-legend itu, beliau mau memberi kesempatan.
Pada kesempatan terpisah, penyanyi Andien pun memuji sosok Dwiki yang sebagai seorang musisi senior tak ragu membuka pintu kesempatan bagi para penyanyi dan musisi muda. ”Beliau mengajak musisi muda, yang bahkan belum memutuskan untuk terjun ke dunia rekaman. Dengan (statusnya) yang se-legend itu, beliau mau memberi kesempatan,” puji Andien.
Dalam konser spesialnya tersebut, Dwiki juga memboyong keluarga kecilnya ke atas panggung, yaitu sang istri, Ita Purnamasari, serta putra semata wayang mereka, Fernanda Dharmawan. Mereka, menurut Dwiki, adalah sumber inspirasi sekaligus semangatnya dalam berkarya.
Dari atas panggung, ketiganya lantas membawakan lagu rock hits lawas milik Ita berjudul ”Cintaku Padamu” karangan Younky Soewarno dan Maryati. Ita bercerita, lagu tersebut ”berjasa” mempertemukan dirinya dan Dwiki hingga kemudian berlanjut ke pelaminan.
Walau tersimak padat dan melelahkan, konser spesial The Musical Journey Of terasa paripurna mewakili perjalanan bermusik Dwiki Dharmawan.
source: kompas.id
Leave a Reply